Wujud Rekonsiliasi, Budayawan Minta Simbol Majapahit Di Jalan Ciamis

Penerapan simbol-simbol Majapahit di jalan-jalan Ciamis masih menjadi bahan perdebatan sampai saat ini. Permintaan penerapan simbol Majapahit ini diprakarsai para budayawan Ciamis yang memiliki andil besar dalam rekonsiliasi budaya Jawa-Sunda. Penerapan simbol-simbol Majapahit ini sebagai tindak lanjut dari kesepatan yang dilakukan Gubernur Jawa Timur dan Jawa Barat pada acara “Rekonsilisasi Budaya Harmoni Sunda Jawa” pada Maret 2018. Ingin mendapatkan berita ini secara lengkap? silahkan kunjungi website berita ciamis

Sejarah Perang Bubat Sukar Hilang

Seperti sudah banyak diketahui, bahwa selama ini mitos perang Bubat berkembang sangat kuat dikalangan masyarakat Jawa Timur dan Jawa Barat itu sendiri. Dendam yang tidak dapat hilang selama ratusan tahun lalu, membuat Jawa Timur dan Jawa Barat tidak pernah bertukar simbol kedaerahan yang berdampak pada hancurnya persaudaraan nasional. Tidak ada satu nama jalan di Jawa Timur yang menggunakan simbol-simbol daerah Jawa Barat. Demikian pula Jawa Barat tidak memiliki jalan yang menggunakan simbol daerah Jawa Timur.

Mitos mengenai perang Bubat inipun merasuk ke dalam budaya, pendidikan dan keseharian sebagian besar masyarakat sunda. Salah satu mitos yang telah mengakar dari generai ke generasi adalah mengenai buruknya pernikahan yang melibatkan orang Jawa dan Sunda. Melalui acara rekonsiliasi budaya jawa sunda yang diprakarsai oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo ini, para budayawan mengharapkan tidak ada lagi dendam lama yang tersimpan. Melalui wujud nama-nama jalan di Ciamis yang menggunakan simbol Majapahit kerajaan terbesar di Jawa Timur.

Dipilih Hayam Wuruk dan Raden Wijaya

Mengenai penggantian nama-nama beberapa jalan di Jawa Barat dengan simbol-simbol Majapahit diawali di Ciamis yang dilanjutkan ke beberapa kota besar lainnya seperti Bogor dan Bandung. Menurut Budayawan Ciamis, Daday Hendarman Praja, bahwa Ciamis dan Bogor menjadi bagian dari sejarah panjang kerajaan Sunda sampai terjadinya perang Bubat. Saat itu letak keraton kerajaan Sunda yang dipimpin oleh raja Linggabuana berada di awali Kabupaten Ciamis. Untuk menindak lanjuti aspirasi ini, para budayawan berniat menemui DPRD Ciamis.

Daday juga menambahkan bahwa selama proses perwujudan rekonsiliasi ini, para budayawan akan mengajukan dua nama yang nantinya akan menjadi nama-nama jalan di Ciamis. Nama tersebut adalah Raden Wijaya dan Hayam Wuruk. Pertimbangan memilih nama tersebut adalah berdasarkan masyhurnya nama keduanya. Juga Daday menambahkan bahwa Raden Wijaya memiliki keturunan kerajaan Sunda. Raden Wijaya adalah cucu dari Raja Sunda Dharmasika. Sementara Hayam Wuruk adalah putra dari Raden Wijaya.